Lomba Ojhung di Situbondo Ramai Peminat, KORMI Fokuskan Regenerasi Pemuda

Lomba Ojhung di Situbondo Ramai Peminat, KORMI Fokuskan Regenerasi Pemuda

SITUBONDO — Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Situbondo menjadikan lomba Ojhung sebagai salah satu cara melestarikan tradisi lokal kepada generasi muda. Puncak lomba Ojhung dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI digelar di Alun-Alun Situbondo, Senin (10/8/2026).

Ojhung merupakan tradisi pertarungan menggunakan tongkat rotan yang berkembang di masyarakat Situbondo. Dua peserta berhadapan dalam arena dan saling menyerang menggunakan rotan, dengan aturan serta batasan tertentu. Pertandingan dipandu wasit yang mengatur jalannya pertarungan sekaligus memastikan permainan berlangsung sesuai ketentuan tradisi Ojhung.

Ketua KORMI Situbondo, Harly, mengatakan tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa Ojhung masih diminati masyarakat, termasuk generasi muda. Jumlah peserta bahkan harus dibatasi karena kuota pertandingan telah terpenuhi, sementara penonton memadati lokasi final.

“Walaupun Ojhung merupakan tradisi yang sudah ada sejak dahulu kala, ternyata masih sangat diminati. Penonton membeludak yang datang dari berbagai daerah,” kata Harly.

Menurut Harly, lomba Ojhung tidak semata-mata ditujukan untuk mencari pemenang. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi secara langsung, sekaligus memahami bahwa budaya lokal dapat tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Ojhung sendiri memiliki unsur tradisional yang kuat. Dalam pelaksanaannya, KORMI tetap mempertahankan nuansa tradisional, termasuk dalam perangkat pertandingan seperti wasit dan pembawa acara. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga karakter Ojhung agar tidak kehilangan identitasnya ketika dikembangkan dalam bentuk perlombaan.

“Harapannya lebih kepada melestarikan budaya. Jangan sampai budaya ini punah karena perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi,” ujarnya.

Untuk mendorong regenerasi, panitia membagi lomba Ojhung menjadi dua kategori berdasarkan usia. Seri A diperuntukkan bagi peserta berusia 20 tahun ke atas, sedangkan Seri B diikuti peserta berusia di bawah 20 tahun.

Menurut Harly, keberadaan Seri B menjadi bagian penting dari lomba karena memberikan kesempatan kepada anak muda untuk terlibat sebagai pelaku tradisi, bukan sekadar menjadi penonton. Dengan cara itu, diharapkan muncul generasi baru yang mengenal sekaligus mampu meneruskan Ojhung.

“Bukan hanya kalangan tua saja. Regenerasi harus ada. Makanya salah satunya kita lombakan untuk usia 20 tahun ke bawah,” kata dia.

KORMI berharap penyelenggaraan lomba Ojhung secara terbuka dapat membuat tradisi tersebut semakin dikenal masyarakat. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan itu sekaligus menjadi pertunjukan budaya yang mempertemukan pegiat Ojhung, generasi muda, dan masyarakat umum.

Lomba Ojhung tersebut difasilitasi Pemerintah Kabupaten Situbondo dan peserta tidak dipungut biaya. Pemenang dari Seri A dan Seri B mendapatkan hadiah yang telah disiapkan sebagai bentuk apresiasi terhadap para peserta.

“Ini terobosan dari pemerintah daerah, terutama Mas Bupati, yang memberikan ruang kepada para pegiat Ojhung. Harapannya, Ojhung tidak hanya familiar di Situbondo tetapi juga berkibar di level nasional,” tutur Harly.[]

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index